Breaking News
Loading...

NINTENDO IMPIANKU

Tahun 1997 saat itu umurku 19 tahun, baru saja lulus dari Sekolah Menengah Umum ( SMU). Tidak seperti kebanyakan lulusan SMU dan teman satu sekolahanku yang sibuk dengan bimbingan belajar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, aku memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan alias mengganggur.

Ini adalah keinginan dan keputusanku saat itu meski kedua orang tua ku ingin aku melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi kata hatiku berkata istirahat satu tahun ini rasanya lebih baik dengan harapan dan doa dalam setiap solat bahwa tahun depan aku akan masuk ke Perguruan Tinggi sesuai dengan cita-cita ku.


Memang awalnya sedikit canggung dengan hari-hari yang sedang aku lalui saat itu, rutinitas ku yang biasanya pagi-pagi sudah sibuk dengan urusan sekolah, berubah total dengan santai di rumah tanpa ada kesibukan yang berarti. Akupun mencoba mencari kesibukan lain dengan mengikuti program pelatihan komputer selama lebih kurang tiga bulan, meski tidak setiap hari namun aku begitu menikmati hari-hari yang aku jalani selama mengikuti program tersebut sampai akhirnya aku mendapatkan sertifikat komputer.
 
 Tak ada fasilitas yang aku miliki saat itu, selain angkot jurusan komplek perumahan tempat orang tuaku tinggal yang kebetulan satu arah dengan lokasi tempatku belajar. Tidak ada rasa canggung atau malu dalam hati ku untuk turun naik angkot  sampai ke lokasi kampus,  meskipun kebanyakan dari siswa lembaga pendidikan tersebut menggunakan kendaraan pribadi dan memarkirnya dengan gagah di halaman parkir kampus.

Selepas menamatkan pendidikan pelatihan komputer, otomatis aku sudah tak punya kesibukan lain hanya santai dan bersantai dirumah. Tak ada aturan yang mengikat dalam berpenampilan, tak ada larangan rambut harus pendek seperti saat sekolah dulu, dan akupun membayangkan jika rambut ku panjang tentunya akan semakin menyenangkan. Dengan sabar ku biarkan rambut ini tumbuh sampai akhirnya sebahu, hatiku sangat senang, bahagia dan tentu saja rambut ikal yang panjang butuh perawatan khusus. Dengan shampoo saset sesuai dengan uang saku yang dikasih ayah, aku sisihkan untuk merawat rambutku.

Tiba-tiba saja aku teringat dengan impianku sejak kecil. Sebuah kotak ajaib yang berisi puluhan permainan yang bisa dimainkan sendiri atau berdua dengan cara menyambungkan kotak tersebut ke tivi dan akan terlihat permainan yang akan dipilih untuk dimainkan. Jumlah permainannya yang banyak dan sangat digemari oleh anak umur 10 tahun seperti permainan Tank Baja, Mario Bros, Ninja, Pesawat Tempur dan puluhan permainan lainnya. Ya kotak ajaib itu adalah sejenis NinTendo  yang sama sekali aku tidak berani untuk minta dibelikan sama ayah. Keinginan untuk punya NinTendo sendiri memang sangat tidak mungkin, akupun bukan tipe anak yang selalu ingin mendapatkan suatu benda dan harus dibelikan hari itu juga. 

Sebagai anak laki-laki  tertua, sejak kecil telah dididik ayah untuk hidup sederhana dan bersahaja, melihat kesibukan ayah pun aku tak pernah berani untuk minta dibelikan NinTendo impian ku sampai di umurku yang ke 19 tahun. Bagiku benda itu adalah barang mewah yang hanya bisa dimiliki  oleh anak dari keluarga berada yang memilki uang lebih, sementara aku bukanlah bagian dari mereka, maka benda itupun hanya menjadi impian panjangku
 
Entah kenapa, keinginan untuk memiliki benda itu kembali tergiang dalam benak ku. lucu memang disaat usia 19 tahun, remaja seumuranku harusnya  bergaul dengan teman sebaya dan melakukan berbagai hal layaknya anak remaja yang penuh dengan ambisi, pemikiran yang kritis dan hura-hura. Tak ada terlintas dalam fikiranku untuk pergi bermain kerumah teman atau sekedar berkumpul dengan teman se umuranku, bahkan untuk mencoba menjalin hubungan spesial dengan perempuan pun bukanlah pilihan yang bijak bagiku. Kesendirian yang aku rasakan bukanlah karena aku minder atau merasa tidak bisa bersosialisasi, namun inilah aku yang lebih nyaman dengan apa adanya diriku.

Semakin hari keinginan untuk memiliki NinTendo pun semakin besar, meski aku sangat paham jika benda itu telah berganti dengan model dan permainan yang jauh lebih modern yaitu Play Station atau PS.1 dan di gandrungi banyak remaja. Bahkan sudah ada di beberapa tempat yang menyewakan PS.1 tersebut . Aku sama sekali tidak terpangaruh dengan hal itu selain keinginan untuk mewujudkan impian masa kecilku dan bermain sepuasnya. Mungkin sebagian orang akan mengatakan aku adalah remaja yang masa kecilnya kurang bahagia, kurang terperhatikan dan tidak memiliki kesempatan yang sama layaknya anak-anak. Terserah apa pendapat mereka yang jelas impianku memiliki benda itu terwujud meski usiaku bukanlah anak-anak lagi.

Suatu hari aku pergi ke toko mainan anak-anak dan mencoba mencari apa yang aku inginkan, dan ketemu !!. ternyata benda itu masih ada dijual di toko tersebut dan masih terpajang dengan baik dalam etalase. Luar biasa perasaan ku tak kala melihat benda yang aku impikan semenjak kecil ternyata masih ada yang menjualnya dan ini harus segera jadi milikku. Ku lihat daftar harganya, dan ternyata tidak terlalu mahal, aku rasa cukup dengan uang saku yang aku sisihkan dan aku tabung sejak lama.

            Ada keraguan datang menghampiri ku, bagaimana caranya membeli benda itu sementara aku sendiri tidak punya keberanian untuk membelinya. Rasanya malu kalau mereka tahu jika benda yang aku beli adalah untuk aku mainkan sendiri. Sesampainya di rumah, buru-buru ku hitung kembali uang yang ku simpan selama ini, ternyata jumlahnya lumayan banyak dan bisa membeli Nin Tendo impian ku. Ku putar otak dan berpikir agaimana caranya agar benda tersebut bisa aku beli secepatnya.

Alhamdulilah, ide cemerlangku pun datang. Adik perempuan ku yang saat itu masih duduk di Sekolah Menengah pertama (SMP) bisa aku jadikan sebagai alasan membeli benda itu. Dengan sedikit rayuan dan memohon, akhirnya adik ku mau diajak ke toko mainan tersebut dan luar biasanya adik ku berhasil membeli apa yang selama ini begitu aku impikan bisa bermain game sepuasnya meski usiaku bukanlah anak-anak lagi. 

Sesampainya di rumah, dengan hati berdebar akupun membuka bungkusan berisi Nin Tendo. Rasa bahagia, puas dan haru pun menjadi satu yang tidak bisa ku ungkapkan satu persatu  saat itu. Ada kebanggan tersendiri dimana aku mampu membeli benda dari uang ku sendiri tanpa membebani orang tua dan kesabaran yang aku punya mampu mengalahkan semua gejolak perasaan dan keinginan untuk memiliki sesuatu tanpa merengek dan meminta pada kedua orang tua ku.

Apa yang selama ini hanya ada dalam khayalku, bahkan sampai terbawa dalam mimpiku bahkan tak pernah terbayang semua ini akan ada meski butuh waktu yang lama. Namun kini terjawab sudah, mimpiku bisa membeli dan memainkan sendiri benda impianku terwujud sudah. Tak ada satupun permainan yang aku lewatkan, seakan kembali pada masa lalu disaat hanya mampu melihat anak laki-laki sebaya denganku sibuk bermain Nin Tendo, tapi hari itu adalah kebahagian ku tersendiri yang akan tetap aku jadikan kebahagian disepanjang umur ku nanti,  bahwa Nin Tendo adalah sahabat baru ku yang akan menemani masa penantian ku satu tahun ke depan, meski usiaku bukan 19 tahun lagi. 

2 komentar:

Copyright © 2013 inspirasi perjalanan hidup All Right Reserved - Shared by WpCoderX