Breaking News
Loading...

LAUTAN YANG TIDAK BERCAMPUR

Suatu ketika seorang Oceanografer berkebangsaan Perancis, JaquesYves Cousteau, telah menemukan sebuah fakta tentang pertemuan dua laut yang tidak bercampur. Ia meneliti pertemuan Samudra Atlantik dan Mediteranian yang tidak bercampur satu dengan yang lain. Keduanya berada di selat Gibraltar, yaitu lautan sempit yang ada di antara Daratan Maroko, Afrika dan daratan Spanyol, Eropa.

Pertemuan dua arus laut ini ditandai perbedaan warna dari
kedua lautan. Air laut dari Samudra Atlantik berwarna biru lebih terang, sedangkan air laut Mediteranian berwarna biru lebih gelap, lebih pekat. Garis batasnya dapat terlihat dengan jelas.

Penelitian Cousteau ini dilakukannya ketika melakukan eksplorasi bawah laut, ia menemukan kumpulan mata air tawar yang tidak bercampur dengan air laut. " Seolah ada dinding yang membatasi kedua aliran air itu ", ujar Cousteau.

Sang ilmuwan pun mencoba mempelajari ilmu kelautan untuk memecahkan misteri tentang fenomena ganjil tersebut, namun tak pernah membuahkan hasil. Ia pun menceritakan perihal tersebut kepada ilmuwan muslim. Alangkah terkejutnya ia saat ilmuwan muslim dengan gamblang mengatakan fenomena ini telah ada dijelaskan dalam Al-qur'an 14 abad silam.

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing " (QS. Ar-Rahman : 19-20)

" Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi" ( QS. Al-Furqan: 53)

Terpesonalah Cousteau mendengar ayat-ayat al-Qur'an itu. Kekagumannya terhadap ayat suci al-Qur'an melebihi kekagumannya akan pemandangan laut dalam yang pernah dilihatnya. Menurut Couesteau, mustahil jika al-Qur'an disusun oleh Nabi Muhammad SAW. Sebab saat itu belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudra. Atas kekagumannya ini, dikabarkan Cousteau akhirnya memeluk Islam sebagai bukti kekagumannya terhadap al-Qur'an.

Kini melalui teknologi yang jauh lebih canggih, masalah yang dihadapi Cousteau terjawab sudah, setelah ia meninggal pada hari Rabu, 25 Juni 1997. Penelitian yang dilakukan menjawab semua keraguannya dan ditemukan sebuah kesimpulan bahwa kedua lautan memiliki sifat-sifat air yang sangat berbeda. Suhu, kadar garam, dan kerapatan air yang berbeda. 

Ketika keduanya bertemu di selat Gibraltar, karakter dari masing-masing air laut tidak berubah. Meski sama-sama zat cair, namun kedua air dari kedua laut tersebut tidak tercampur. Bahkan, air laut Mediteranian menyusup sampai kedalaman1.000 meter di bawah Samudra Atlantik dan tetap tidak berubah karateristiknya. SUBHANALLAH!

sumber :  ( Sain Islam, Hidayah , Sebuah Intisari Islam, edisi 138, Februari 2013, hal 48-51 )

0 komentar:

Copyright © 2013 inspirasi perjalanan hidup All Right Reserved - Shared by WpCoderX